Tagged with Lihat cerpen lain

        Detik demi detik terus berlalu. Jam yang menempel di dinding terus saja menggerakkan bandulnya ke kiri dan kekanan. Sepertinya jam itu sedang menertawai diriku. Memang aku pantas untuk ditertawakan, bahkan Andi juga menertawai diriku. Padahal ia tahu bahwa dalam perutku yang membuncit ini terdapat asa dan harapannya. Tertawaan jam itu membuatku … Continue reading