Future girl

 

 

Detik demi detik terus berlalu. Jam yang menempel di dinding terus saja menggerakkan bandulnya ke kiri dan kekanan. Sepertinya jam itu sedang menertawai diriku. Memang aku pantas untuk ditertawakan, bahkan Andi juga menertawai diriku. Padahal ia tahu bahwa dalam perutku yang membuncit ini terdapat asa dan harapannya. Tertawaan jam itu membuatku mesti menyapu keringat dan air mata yang bercampur menjadi satu di wajahku yang berminyak ini setiap kali terdengar bunyi klik dan klok khas jam tua itu. Beberapa jerawat terasa pedih saat kusentuh dengan ujung-ujung jariku. Mungkin tonjolan-tonjolan pada wajahku ini melambangkan bagaimana kegundahan hatiku saat ini. Perih, mungkin itulah yang kurasa, hatiku begitu risau dan gelisah.

Aku ingin menghilangkan rasa perih ini, tapi bagaimana caranya ? Tiba-tiba aku teringat akan perkataan Chelsea padaku tadi pagi. Ya, dia benar bahwa aku ini sudah benar-benar nista. Teganya ia berkata begitu, dia itu kan sahabat ku ? Tapi, dia malah ikut tertawa dan meninggalkanku begitu saja dengan semua rasa kecewa ini. “Kalian semua iblis !” teriakku didalam hati yang sudah terkoyak menjadi 1000 bagian ini. Tangisku semakin deras, terkadang aku tersedak oleh air yang mengalir dari mataku. “Aku ini masih 13 tahun…”

Teng…teng…teng, benda bulat itu berbunyi memecah keheningan malam yang menyiksa batinku. Ku tolehkan wajahku yang memerah ke arah benda bulat sebesar Syifa, adikku yang masih berumur tujuh bulan. Mataku yang lesu melihat keangkuhan jam itu, yang dengan bangga ia perlihatkan bahwa waktu telah banyak kubuang kedalam lembah yang begitu kelam. Seperti terhipnotis oleh gerakan bandul pada benda itu, aku melayang ke awan mimpiku.

“Jangan pergi! Tunggulah aku sebentar lagi, aku pasti akan pergi bersamamu. Tunggu…!”tiba-tiba aku berteriak memanggil seorang kakek yang sedang melenggang keluar dari pintu rumahku. Tapi, seperti tidak mendengarkan kata-kataku, pria tua itu terus berjalan menyusuri jalan berliku yang sepertinya tiada berujung. Tanpa menoleh sedikitpun kepadaku. Tiba-tiba jantungku terpacu dengan cepat, begitu cepatnya sehingga ku rasakan aliran darah yang begitu deras ke seluruh nadiku. Rasa takut dan risau dibawa mengalir oleh darah itu keseluruh tubuhku, dengan cepat mengalir hingga ke ujung kuku. Tubuhku menjadi bergetar dan begitu lemah sampai-sampai ketika aku ingin mengucapkan kata tolong saja lidahku kelu.

Tiba-tiba pandanganku menjadi kabur yang perlahan-lahan mengubah suasana ruang tamu rumahku menjadi begitu kelam. Kelam, tanpa disinari cahaya bintang setitikpun. Tak berapa lama setelah semuanya menjadi gelap gulita, tangan dan kakiku terasa kelu. Rasanya sakit sekali, seperti gunung everest sedang menduduki telapak tangan dan tumit kakiku. Tak sanggup ku gerakkan kakiku, apalagi untuk berdiri. Tapi aku ingin berlari mengejar pria tua yang bayangannya telah menghilang sedari tadi. Apakah aku bisa pergi dari sini dan berlindung dibawah cahaya yang dibawa kakek berjubah putih tadi ? Entahlah, tapi itu pasti lebih baik dari pada aku terbelenggu disini. Seandainya aku bisa melawan semua rasa sakit ini !

Tetesan air jatuh membasahi kelopak mataku. “Dari mana air ini berasal ? Aku tidak sedang menangis”gumamku didalam hati. Entah karena apa, tiba-tiba aku sanggup membuka mataku. Ajaibnya, ruangan yang semula gelap gulita berubah menjadi terang kembali. Tetapi ada yang aneh, seluruh benda yang ada disini menjadi serba putih. “Dimana aku ?”kata dengan suara yang lemah dan bergetar. Ku tolehkan wajahku kesamping, kemudian seperti melihat hantu wajahku berubah menjadi pucat pasi.

“Mama, kok ada disini ? Kita ada dimana, ma ?”tanyaku pada wanita yang sedang menangis tersedu-sedu dipundak papa.

“Nisa, sayang ! Kamu sudah sadar ? Pa, cepat panggilkan dokter.”tiba-tiba raut muka mama berubah menjadi begitu berseri-seri, meskipun bekas air mata masih melekat di pipinya. Papa tanpa pikir panjang langsung berlari keluar.

Sepertinya aku tahu dimana aku sedang berbaring sekarang. Ya, aku berada dirumah sakit dengan tangan kiri yang diperban. “Mama, maafkan Nisa ma!” kupegang tangan mama dengan begitu erat. Tak kuasa kutahan air mata yang mengalir hingga membasahi bantalku. Mama langsung memeluk tubuhku yang lemah ini, aku tahu mama pasti sedang menangis. Peristiwa itu terjadi hingga beberapa menit, sampai papa datang dengan dokter.

“Iya sayang, seharusnya mama yang minta maaf sama kamu. Mama sama Papa Cuma sibuk dengan urusan masing-masing, padahal kami punya putrid yang harus diperhatikan.”kata mama sambil menghapus air mata yang membasahi pipi dan kacamatanya.

“Tapi, ma! Nisa hamil…”

“Kami tahu sayang. Kami nggak akan marah, karena itu semua kesalahan kami. Hidup harus tetap berjalan sayang…”kata papa dengan lembut sambil menghapus air mataku.

“Makasih, pa, ma! Nisa menyesal…”lansung kupeluk mama namun kali ini tanpa air mata. Benar kata papa, lives still go on. Suatu tindakan bodoh, kalau aku mencoba membunuh diriku lagi. Waktu memang tak akan pernah bisa kembali, tapi kesalahan masa lalu masih bisa diperbaiki. Saat ini aku tidak setuju dengan perkataan Pak Firdaus guru bahasaku bahwa nasi sudah menjadi bubur , meskipun bubur tak akan pernah menjadi nasi lagi tapi aku masih bisa menambahkan bubur itu dengan ayam, bawang, dan kerupuk dan rasanya akan lebih enak dibandingkan nasi. Aku akan menghiasi hidupku dengan sesuatu yang berharga, tak akan ku sia-siakan satu detik sekalipun. Akan kunikmati hidupku bersama mama, papa dan bayiku yang sebentar lagi akan lahir untuk menemani malam-malamku.

Dari sini aku bisa melihat kakek tua berjubah putih itu, sedang tersenyum kepadaku. Kini aku tahu kenapa kakek itu pergi meninggalkanku didalam mimpi saat malam itu. Dia ingin menunjukkan padaku bahwa there another way for me.

Terimakasih Tuhan, Engkau memberikanku kesempatan kedua…

 

    

     

Advertisements

One thought on “

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s